Suasana toleransi di dusun minggir III sendangagung Sleman Yogyakarta

Beberapa saat ini, bangsa Indonesia tengah dibuat terkejut dan prihatin dengan beberapa kejadian yang merobek suasana nyaman dan toleransi di negeri ini. Tak terkecuali di kota berhati nyaman Yogyakarta.

Beberapa pihak sungguh menyatakan keprihatinanya dan mulai mengambil tindakan nyata untuk mengatasi situasi ini. Mulai dari para pemimpin, politisi, perangkat desa, aktivis perdamaian mulai menyuarakan tentang kehidupan berdampingan yang mengutamakan toleransi.

Dari level akar rumput, masyarakat Indonesia, terutama warga Yogyakarta, kehidupan yang jauh dari intoleransi sebenarnya sudah dihidupi dari generasi ke generasi.

Tak terkecuali bagi warga dusun minggir III, kelurahan sendangagung kecamatan minggir. Kehidupan gotong royong, toleransi, saling membantu dan peduli satu sama lain sudah mengakar dalam relung jiwa mereka.

Ini tergambar dalam kehidupan keseharian masyarakat dusun minggir III ini. Dan saya sempat melihat sebuah pemandangan luar biasa saat melayat salah seorang kerabat beberapa saat lalu.

Suasana penuh toleransi

Keluarga yang berduka cita kebetulan beragama kristen. Luar biasanya adalah, saat saya bersama rombongan datang, mulai dari petugas parkir, sampai penerima tamu, semua warga terutama saudara muslim ambil bagian dengan porsi lebih besar.

Menurut seorang warga, “ini sudah menjadi kebiasaan kami, bahwa apabila ada salah seorang warga kesusahan, kami akan turun bersama-sama membantu. Tidak peduli agama maupun status sosialnya.”

Pemandangan ini menjadi angin menyejukkan tentunya di tengah-tengah geliat intoleransi yang sedang mencoba menggerogoti persatuan dan persaudaraan bangsa ini.

“Bukankah akan lebih indah dan damai bila perbedaan bukan menjadi pemisah namun justru menjadi perekat untuk saling mengisi dalam kehidupan bermasyarakat ?” Imbuh warga yang lain.

Sungguh, suasana yang sempat terekam saat itu menjadikan saya terharu. Bagaimana tidak? Keluarga yang memang sedang berduka dan nota bene seorang Kristen, justru dibebaskan untuk tidak banyak mengurusi pernak-pernik pemakanan. Diambil alih oleh saudara-saudara muslim. Apalagi pada saat ibadat/doa dilangsungkan secara agama Kristen. Luar Biasa !!

Contoh nyata dari kehidupan bermasyarakat dari warga pedukuhan minggir 3. Tidak perlu banyak bicara dan berargumentasi, namun langsung pada tindakan riil.

Warisan kehidupan masa lalu yang masih dan tetap terjaga di sebuah dusun kecil di wilayah Yogyakarta ini patut dijadikan contoh untuk daerah-daerah yang lain terutama untuk generasi mudanya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *