Prosesi Tradisi Wiwitan di Sendangagung Minggir Sleman Yogyakarta

Tradisi Wiwitan di Sendangagung

Minggu,22 April 2018 mulai pukul 13.00 WIB di Sendangagung Minggir Sleman DIY diadakan acara tradisi wiwitan yang dalam bahasa jawa berarti mulai. Tradisi dan ritual ini pada jaman dahulu selalu diselenggarakan oleh kaum tani menjelang panen padi.

tradisi wiwitan

Tradisi wiwitan ini Selain sebagai satu rangkaian acara dalam rangka Ulang tahun ke 70 Sendangagung juga merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Sang Pencipta atas panenan sebelum hasil panen dinikmati oleh semua. Padi yang dipanen digambarkan sebagai Dewi Sri yang memberi dan memelihara tanaman padi, dengan segala energi yang tidak kelihatan.

Padi – Kebudayaan yang hidup
Mitos terhadap Dewi Sri telah menjaga keseimbangan alam dan pengelolaan sawah yang selaras dengan kosmologi Jawa. Bahwa di balik tanaman padi menyimpan kebudayaan kebudayaan yang hidup dan menghidupi. Padi telah menghidupi bangsa Indonesia sejak dulu

Dalam Penyelenggaraan acara ini ditunjuk sebagai pelaksana adalah dusun Babadan 4. Kegiatan diawali dengan kirab hasil bumi berupa gunungan yang dikawal satu Bregada (Brigade) Kyai Kelir dari dusun Kliran 9. Didukung dan dimeriahkan dengan iringan musik gamelan Jawa dari Sanggar Seni Dososumarjo Minggir 3, yang diketuai oleh Drs. Antonius Heriyanto. Sebelum semua “ubarampe” serta hasil bumi ini disantap oleh seluruh anggota masyarakat, terlebih dahulu diadakan prosesi potong padi serta didoakan bersama.

pojok 4

Rangkaian acara ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan DIY, yang dalam kesempatan acara ini dihadiri oleh Bapak Adi Mulyono – tim monitoring dinas kebudayaan DIY serta pemerintah daerah kabupaten Sleman.

Menurut Kepala Desa Sendangagung Raden Heru Prasetyo Wibowo, dalam sambutannya mengatakan bahwa kelancaran penyelenggaraan tradisi wiwit ini tidak lepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali aprisiasi penuh dari Yayasan Sendang Agung Gumregah (SAG) atas terselenggaranya upacara wiwitan sebagai bentuk langkah riil menggali budaya lama yang penuh makna.

kades sendangagung

Drs. Antonius Suparnjo sebagai Ketua Yayasan SAG mengatakan bahwa dengan peristiwa upacara tradisi wiwitan, agaknya ada kerinduan orang “jaman now” kepada tata nilai lama, yang akhir2 ini banyak ditinggalkan, dan memandang tata nilai baru menyenangkan. Kenyataannya, yang lama tidak selalu jelek. Ada mutiara indah di dalamnya, kalau kita mau menggalinya.

Antonius Suparnjo

Dalam sambutannya, ketua Yayasan SAG menjelaskan pula bahwa Sendangagung Gumregah adalah yayasan nirlaba yang di dalamnya adalah putra-putri Sendangagung, baik yang masih tinggal di tabon maupun di rantau yang ingin berbakti sedikit bagi bumi kelahiran (desa yang tercinta).

Dan sesudah Lebaran 2018, SAG akan menata lapangan Sendangagung menjadi alun2 Sendangagung sebagai ibukota kalurahan dan kecamatan Minggir. Untuk itu SAG mohon doa restu seluruh masyarakat Sendangagung agar semua rencana kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.

Kegiatan prosesi tradisi wiwitan ini juga dimeriahkan dengan hiburan setelah prosesi tradisi wiwitan selesai, berupa tarian-tarian tradisional jawa yang dipersembahkan oleh putra-putri Sendangagung.

Kegiatan hari itu berakhir dengan kesan sangat mendalam di benak seluruh yang hadir. Bagi kalangan senior (kalau tidak boleh dibilang tua :D) kegiatan ini menjadi obat atas kerinduan masa kanak-kanak sampai remaja atas keseruan tradisi wiwitan pada masa itu.

Sedangkan bagi generasi jaman now, kegiatan ini pasti mampu membuka cakrawala mereka atas kekayaan budaya tanah air, terutama tradisi budaya wiwitan di Desa Sendangagung ini. Budaya yang harus disadari oleh mereka sebagai budaya yang akan hilang tergerus arus Globalisasi dan modernisasi apabila mereka tidak segera turun tangan melestarikannya.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *