Ternyata harapan itu masih ada, Harapan kita semua…

Harapan ? Tentang apa ?

Begini ceritanya.

Sudah kurang lebih 16 tahun, setiap hari saya berangkat dan pulang kerja dengan menumpang kendaraan umum. yah, moda transportasi bus ini yang saya pilih untuk menempuh jarak sekitar 50 km dari rumah sampai tempat kerja.
Selain lebih menghemat tenaga juga untuk meminimalkan resiko selama perjalanan dibandingkan dengan kalau saya mengendarai kendaraan sendiri.

Banyak kejadian, suka duka yang saya alami. Mulai dari terlambat masuk kerja karena bis lelet, harus berdiri berdempetan di bus, bergelantungan di pintu bus sampai berdebat dengan sesama penumpang. itu semua kejadian-kejadian yang sulit terlupakan.

Ada satu yang tidak banyak berubah. Bus selalu dipenuhi anak sekolah dari dulu sampai sekarang. Dan ada yang selalu menarik perhatian saya ketika memperhatikan anak-anak ini.

Dahulu ketika ada penumpang yang baru naik, anak-anak sekolah ini selalu saja berebut untuk menawarkan bangku mereka. Apalagi kepada orang tua dan ibu-ibu yang menggendong anaknya. Mereka rela berdiri sepanjang perjalanan dan tidak terlihat mengeluh.

Seiring berjalannya waktu, kejadian seperti ini mulai sedikit demi sedikit  jarang ditemui.  Anak-anak sekolah ini dari tahun ke tahun terlihat mulai berkurang rasa pedulinya terhadap orang yang lebih tua.
Bahkan akhir-akhir ini, dengan santainya terlihat di dalam bus mereka semua duduk di bangku, sedangkan banyak orang tua dan ibu-ibu yang berdiri.

Sungguh kejadian seperti ini membuat miris. Terlebih saya sebagai seorang pendidik. Apakah sebegini parahnya kepribadian anak-anak jaman sekarang. Tidak ada lagi belarasa dan kepedulian terhadap orang lain. Apakah Ini bukti kegagalan system pendidikan terutama pendidikan kepribadian dan budi pekerti?

Tetapi ada satu kejadian terakhir waktu saya pulang kerja. Kejadian ini membuat saya melongo seolah tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Pulang kerja sekitar pukul 14.30 saya berbarengan dengan 3 anak sekolah menengah di gunungkidul yogyakarta menunggu bus di halte. Begitu angkutan kami datang, karena bis masih kosong sayapun dengan leluasa memilih tempat duduk. Begitu juga dengan anak-anak sekolah ini.

Bus pun berjalan. Sesampai di tempat perhentian bus yang kedua naiklah seorang ibu yang sudah berumur. Waktu itu bus sudah penuh dan si ibu harus berdiri. Tanpa saya duga, satu dari ketiga anak sekolah tadi langsung berdiri dan mempersilahkan ibu ini untuk duduk di bangkunya.

Keheranan saya belum berhenti saat kejadian berikutnya. Dalam perjalanan, ada 2 orang bapak dan ibu yang menggendong anak naik ke atas bus.  Dan dengan spontan dan tanpa pikir panjang dua anak yang lain langsung berdiri menawarkan bangku mereka kepada bapak dan ibu ini.

harapan bangsa

Kejadian luar biasa yang sangat jarang saya temui kembali setelah 6-7 tahun yang lalu. Saat itu saya tertegun memandang ketiga anak sekolah ini satu persatu. Perasaan saya pecah ketika itu, haru bercampur bangga.

Kekuatiran saya tentang generasi muda yang semakin hilang kepeduliannya terhadap sesama perlahan-lahan berkurang. Optimisme yang dahulu sempat kabur, kini muncul lagi.

walaupun, ketiga anak ini belum bisa dikatakan mewakili semua generasi muda tanah air, tetapi paling tidak kita tahu bahwa masih ada generasi muda yang memiliki rasa hormat dan peduli sesama.

Dari kenyataan yang saya lihat hari itu ternyata mampu menumbuhkan kembali harapan akan peradaban yang lebih baik. Harapan itu masih ada. Optimisme itu masih tetap ada.

Untuk itu, peran kita semua pasti dibutuhkan untuk perkembangan kepribadian anak-anak kita.
Kalau bukan kita siapa lagi ? sedangkan sekarang pengaruh dunia luar semakin luar biasa menggiring mereka menjadi pribadi yang individualistis.

 

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *