KETIKA ANTONIUS SUPARNYO – ISTERINYA TERBARING TAK BERDAYA (Kisah nyata)

Saat getir itu datang, semua menjadi gelap, bumi terasa runtuh, tak ada tempat berpijak. Antonius Suparnyo panik, ketika mendapati isterinya, Veronika Herwangi, mendadak stroke.
Sabtu, 4 Oktober 2008, ketika sedang berada di tempat kerja, hati Anton gelisah. Iapun pulang . Sesampainya di halaman rumah, ia mendengar cucu kakaknya menangis keras. Ia cepat masuk rumah. Bagai disambar petir, ketika ia melihat isterinya pingsan di tempat tidur, sementara cucunya menagis di atas tubuh sang isterinya.
Dalam kepanikan ia mengangkat isterinya dan membawanya sendirian ke rumah sakit besar di Yogyakarta. Dua hari Hermangi tidak sadar. Selama itu pula Anton menunggu dengan penuh kegelisahan.
Pada hari ketiga Herwangi siuman,  tetapi seluruh tubuhnya lemas. Ia menangis dan Anton memegang tangannya untuk meneguhkan istrinya. Dokter mengatakan bahwa isterinya mengalami kelumpuhan karena hipertensi. Mendengar perkataan dokter itu, Anton pun lemes.
Setelah 15 hari di rumah sakit, isterinya dibawa pulang meskipun belum sembuh total. Herwangi yang sangat aktif di Gereja dan masyarakat harus berhenti total dari aktivitasnya, terlentang di tempat tidur tanpa bisa bergerak.

Tegar dan rapuh
Anton, kelahiran 17 Januari 1953, lulusan Bahasa Jawa dari Universitas Negeri Surakarta. Sedangkan Herwangi kelahiran Semarang 3 September 1961, dinikahinya 17 Pebruari 1986 . Dengan setia Anton merawat sang isteri yang terbaring lemas di tempat tidur. Ia menyediakan segala keperluannya , mulai dari makan, minum, mandi , pakaian hingga menyisir rambutnya. Segala usaha ia lakukan demi kesembuhan pasangannya, termasuk pengobatan alternatif, Namun kenyataanya belum juga membawa hasil.
Jujur, hati saya hancur luluh, namun saya bersandiwara di depan orang-orang dan keluarga saya, dengan tampil selalu tegar,  kata Anton yang suka main peran dalam kethoprak ini.
Awalnya Anton merasa harus kelihatan gembira demi istrinya putri semata wayang mereka, Athanasia Riant Prihatini Kusuma yang lahir  di semarang 3 Mei l988. Namun sikap pura-pura itu lama kelamaan menjadi kesungguhan. Jika sakit isteriku adalah salibku, maka salib itu akan saya cium, saya panggul sampai ke tempat Tuhan Yesus kehendaki, katanya tanpa ragu.
Anton menerima kenyataan itu dengan tulus, walau kadang-kadang mengalami kegoncangan juga. Saya akan memikulnya sampa Tuhan berkata, Sudah cukup yaitu saat isteriku sembuh, katanya terharu. Kini Anton focus memperhatikan istrinya. Dengan setia ia tetap melayani segala kebutuhan isterinya, termasuk buang air besar dan kecil, siang dan malam.
Sekarang , saatnya saya lebih mewujudkan cinta kepada isteri dan putri saya, katanya. Jika isterinya menangis, ia merangkulnya dan menangis berdua karena cinta.  Maaf ya Pa, Mama terlalu merepotkan papa,  kata Wakil Ketua CU Stasi Pringgolayan ini seraya menangis.
Tidak apa-apa kok Ma. Kita harus menerima semua ini dengan tulus.,  katanya sambil memeluk isterinya dengan hati seakan disayat-sayat. .
Agar semakin dekat dengan Tuhan, bendahara lingkungan ini selalu berdoa dan membaca Kitab Suci. Herwangi telah membaca Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru dari awal sampai akhir sebanyak tiga kali dan akan dilanjutkan untuk yang keempat kalinya. Ibu yang memiliki hobi tennis ini juga membaca buku renungan, dan doa koronka setiap pukul tiga sore. Herwangi sangat merasakan cinta kasih suami dan putrinya. Semua jabatan Herwangi, termasuk panitia Pemungutan Suara Kelurahan Rejowinangun telah dilepaskan demi kesembuhan dirinya.
Anton ingin selalu terlihat tegar, tapi kadang ia merasa sangat rapuh. Jika ia merasa tak berdaya, maka di saat anak dan istrinya terlelap tidur, ia perlahan bangun , keluar dari kamar dan duduk di teras rumahnya. Di sana ia mencurahkan beban hidupnya kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Sebagai puncaknya , warga Paroki Bintaran Yogyakarta  ini berdoa, Kedalam tangan-Mu kuserahkan diriku, ya Tuhan penyelamatku.
Doa itu ia unjukkan dan ia nyanyikan berkali-kali, sementara air matanya bercucuran, hingga hatinya tenang. Di saat itu Anton merasakan kehadiran Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang memeluknya dengan berkata, Anak-Ku jangan takut. Aku menyertaimu, Aku ikut memanggul salibmu. Antonpun mengakhiri curhatnya dengan mata berbinar. Kemudian ia kembali ke kamar menunggui istrinya dan putri kesayangannya.

Love
*Ilustrasi

Kesembuhan
Selama Herwangi di rumah sakit, banyak yang menjenguk dan menemaninya, bahkan menyediakan makanan bagi keluarganya. Sampai saat ini selalu ada Pastor, suster, bruder, dan umat yang menjenguk dan mendoakannya. Setiap hari Minggu, jika tak ke Gereja, petugas mengirim komuni ke rumah. Kami semakin damai, saling mengasihi, sehati sejiwa, dan putriku semakin dewasa. Itulah salah satu hikmah yang harus kami syukuri, kata Anton.
Jika ke Gereja, Anton memapah isterinya sampai masuk Gereja. Mereka duduk di bangku paling depan agar saat terima komuni tidak perlu berjalan. Wah kami seperti manten, katanya berkelakar.
Veronika Herwangi telah mengalami banyak kemajuan. Dengan dipapah suaminya, ia sudah dapat turun dari tempat tidur, mandi dan makan. Kursi roda sengaja disingkirkan untuk mengurangi kenangan yang tidak enak. Herwangi cepat sehat karena kasih Tuhan, kasih suaminya, serta putrinya. Jika sudah pulih nanti, keluarga ini bertekat akan kembali mengabdi pada Gereja dan masyarakat. Ia bersyukur walaupun semula ia berontak. Tuhan itu kasih, murah hati, dan setia. Saat ada kegelapan, Ia menjadi terangku. Dan  saat aku tak berdaya, ia menggendongku, ungkap Anton.
Anton yakin, istrinya akan bisa sehat seperti semula. Doa kedalam tangan-Mu kuserahkan diriku, ya Tuhan penyelamatku akan ia daraskan terus setiap hari. Doa itu akan ia jadikan pegangan seumur hidupnya. Anton yakin betul,Bersama Tuhan pasti ada jalan.

 

diangkat dari sebuah kisah nyata oleh :
Yohanes Muryadi – mantan staf sekretariat Paroki Kalasan th 1970
*Dimuat di Majalah HIDUP Tahun ke-65 26 Juni 2011

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *