KARAKTER GENERASI PANENAN GURU (refleksi atas profesiku)

Suatu sore saya sedang duduk mengudap di suatu warung di pinggir jalan. Tampak lewat sepasang suami isteri, berboncengan sepeda motor, dengan anak laki-lakinya sekitar umur 4 tahun yang duduk di bagian depan

Anaknya menangis sejadi-jadinya, dan tampak marah kepada ibunya. Suatu hal yang biasa sebenarnya. Yang mengejutkan banyak orang disekitarnya, anak itu menangis terlihat marah sambil memaki-maki dengan bahasa yang sangat kasar bahkan jorok kotor, penghuni kebun binatang semua keluar, tidak selayaknya diucapkan, apalagi di depan umum dan dilakukan oleh anak kecil umur 4 tahun.

karakter anak

Semua yang menyaksikan itu terperangah dan terkejut, anak seumur itu sudah sangat “pandai” dan lancar menggungkapkan dirinya dengan bahasa sekasar itu. Tak ada yg tertawa tak ada yg tersenyum! Dari wajah yang menyaksikan tampak kekecewaan besar. Peristima itu menjadi topik di warung hari itu!

Kosakata anak selalu didapat dari melihat dan mendengar dari lingkungannya. Peristiwa di atas, si anak pasti tidak ada yang mengajari hal tidak baik itu. Dan tidak ada orang tua atau guru mengajarkan demikian. Kemungkinan terdekat adalah anak mendengar dan melihat orang, bisa orang tua, tetangga ataupun lingkungan menggunakan kata-kata tersebut.

Semua perbuatan dan perkataaan yang didengar anak ternyata sangat melekat diterima anak yang belum umur. Yang ada di sekitarnya pasti tidak menyadari bahwa akibatnya akan sedemikian menyedihkan dalan proses perkembangan seorang anak.

Dari peristiwa tersebut dapat dikatakan, tanpa sadar semua orang bisa menjadi “guru” bagi generasi penerus. Terbukti kosakata itu didapat bukan dari sekolah. Kalau perbuatan dan perkataan orang dewasa yang tidak mendidik terserap oleh anak, dan anak itu dalam pergaulan dengan temannya menggunakan kata-kata itu, terjadilah deret ukur berkembang biaknya sikap dan tutur kata yg tidak semestinya.

Itu baru dari segi tutur saja. Bagaimana dengan sikap dan perilaku guru dan keluarga yang notabene juga “guru” bagi penerusnya? Ibarat buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, padahal pohon satu bisa berbuah ratusan bahkan ribuan sampai tak terhitung lagi!!

Kalau orang tua masyarakat bahkan guru profesi memberi teladan dengan perilakunya, pasti akan cepat ditiru anak. Lahirnya anak-anak dan generasi yang bermasalah, kenakalan remaja, sikap intoleransi, biasanya muncul dari keluarga atau lingkungan yang seperti itu pula.

Di republik ini sedang gencar memberantas sikap radikalisasi yang kadang berujung perilaku terorisme, dengan berbagai cara. Tetapi usaha ini pasti akan sangat minimal hasilnya, kalau tidak didukung oleh para guru profesi dan orang tua, keluarga dan masyarakat yang juga berfungsi sebagai “guru” sepanjang waktu.

Dari para gurulah yang mendapat kesempatan menanamkan nilai-nilai keutamaan termasuk sikap toleransi, deradikalisasi saat masih anak-anak. Hasilnya pasti tidak bisa seketika terlihat dalam kurun waktu pendek, mungkin baru beberapa tahun bahkan puluhan tahun.

Di setiap sekolah kadang muncul “guru bintang” alias guru favorit. Berbahagialah yang mendapat julukan itu, yang tidak akan teraih dengan prosedur formal, tetapi hanya bisa dengan perilaku dan relasi yang sehat dengan anak didik. Tidak jarang anak didik berperilaku dengan mengidolakan guru favorit.

Dalam hal ini guru favorit mendapat kesempatan emas untuk.menanamkan nilai dan keutamaan kepada para muridnya, tanpa mengurangi peranan semua guru bahkan civitas akademika. Penanaman nilai di saat masa pendampingan perkembangan di sekolah, merupakan investasi kemanusiaan dan kebangsaan yang akan terlihat sesudah sekian puluh tahun.

guru

Cukup sederhana kalau refelksi ini saya simpulkan bahwa karakter generasi adalah hasil panen hidup dan karya guru, baik formal maupun nonformal bersama masyarakat dengan seperangkat menejement dan organisasi profesi guru yang mendukungnya.

Jangan heran guru radikal dan intoleransi akan menghasilkan anak didik yang fanatik intoleran, radikal, bahkan bisa.menjadikan agama sebagai alat legalitas kekerasan!

Sebaliknya keutamaan guru akan sangat dikenang oleh sekian anak didik yang tersebar ke berbagai penjuru, yang tidak tahu lagi berada dimana. Yakinlah hai guru, hidup, keutamaan, dan karyamu akan dikenang oleh anak didik, akan dikenang oleh generasi.

Selamat Hari Guru 25 Nopember 2017.
Guruku pahlawanku,
Meski tidak harus bergelar
PAHLAWAN!

padahari guru

6 Mulud 1951 Dal, wuku Mandasiya
Sutanto Prabowo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *